home » Aset Tak Berwujud
Post : 18-Oktober-2017

Aset Tak Berwujud

Aset yang dimiliki perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tidak selalu memiliki wujud fisik yang bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Aset ini bernama Aset Takberwujud (Intangible Asset). PSAK 19 mendefinisikan Aset Takberwujud sebagai aset non-moneter yang teridentifikasi tanpa wujud fisik. Tiap kata dari kalimat definisi tersebut memiliki makna masing-masing yang melengkapi identitas aset takberwujud. Aset sendiri memiliki makna sebagai sumber daya yang diperoleh perusahaan dan diharapkan dapat menghasilkan manfaat ekonomik di masa mendatang. Dikategorikan sebagai aset Non-moneter karena mengandung nilai yang tidak pasti di masa mendatang. Contoh lain dari aset non-moneter adalah persediaan barang dagang, fasilitas fisik pabrik, investasi dalam saham, dan Goodwill. Aset Tak berwujud dapat Teridentifikasi jika dapat dipisahkan dari perusahaan untuk dijual atau dialihkan secara terpisah. Keteridentifikasian Aset Takberwujud ini disyaratkan agar dapat dibedakan dengan Goodwill.

Goodwill juga termasuk dalam klasifikasi Aset Takberwujud. Namun yang membedakannya dari aset takberwujud biasa adalah cara memperolehnya. Goodwill diperoleh dari hasil akuisisi dengan perusahaan lain. Seperti merek dagang, data supplier, paten produk, atau informasi lain yang tidak dapat dipisahkan dari perusahaan tersebut merupakan goodwill. Contohnya, PT. Ghibli yang bergerak di bidang makanan ringan memtusukan untuk melakukan akuisisi dengan perusahaan Coca-Cola yang memproduksi minuman bersoda. Sejumlah aset takberwujud yang tidak dapat dipisahkan dari perusahaan Coca-Cola seperti merek dagang Coca-Cola, data pelanggan, data supplier, resep minuman yang diproduksi, dan informasi teknologi yang dipakai adalah goodwill yang muncul disaat proses akuisis dan kini ikut dimiliki oleh PT. Ghibli.

Beberapa aset yang dapat dikategorikan Aset Takberwujud antara lain adalah ilmu pengetahuan, implementasi, lisensi, hak kekayaan intelektual, paten, hak cipta, film, izin penangkapan ikan, kuota impor, waralaba, hak eksplorasi, dan lain sebagainya. Namun beberapa jenis Aset Takberwujud dapat dimuat dalam sesuatu yang bersifat fisik, seperti compact disc (dalam kasus software komputer), atau dokumentasi hukum (dalam kasus lisensi atau paten). Dalam hal ini manajemen perusahaan menggunakan pertimbangan untuk menilai elemen mana yang lebih signifikan. Contoh, software adalah aset takberwujud pada komputer. Dan computer tidak dapat beroperasi tanpa software tersebut. Dalam kasus ini karna komputer tidak mempunyai nilai ekonomik tanpa software, maka software tersebut diperlakukan sebagai bagian dari computer. Bukan sebagai Aset Takberwujud yang terpisah.

Manfaat ekonomik yang diperoleh dari Aset Takberwujud dapat berasal dari hasil penjualan barang atau jasa. Namun manfaat ekonomik lain bisa juga didapat dari penghematan biaya. Sebagai contoh, PT. Ghibli yang bergerak di bidang makanan ringan ingin membeli ilmu teknik pengemasan makanan yang lebih efisien dari hasil penelitian sekelompok mahasiswa teknik pangan. Untuk dapat memperoleh informasi cara mengemas makanan tersebut, PT. Ghibili harus membeli Aset Takberwujud berupa kekayaan hak intelektual yang melindungi penemuan tersebut. Lalu dalam proses produksi selanjutnya, teknik pengemasan yang baru memang tidak meningkatkan pendapatan, tetapi mengurangi biaya produksi masa depan.

Aset Takberwujud dapat dihasilkan secara internal yang umumnya dihasilkan dari hasil riset yang dilakukan perusahaan itu sendiri. Terkadang sulit untuk menilai apakah Aset Takberwujud yang dihasilkan secara internal memenuhi kriteria untuk diakui. Kesulitan tersebut antara lain apakah akan menghasilkan manfaat ekonomik masa depan yang diharapkan dan bagaimana menentukan biaya perolehan Aset Takberwujud tersebut. Dalam beberapa kasus, biaya untuk menghasilkan Aset Takberwujud tidak dapat dibedakan dengan biaya operasi sehari-hari.

Maka dari itu, PSAK 19 mengatur sebelum dapat diakui sebagai Aset Takberwujud yang dihasilkan secara internal, perusahaan harus mengkalsifikasikan proses dihasilkannya Aset Takberwujud dalam dua tahap. Tahap penelitian atau tahap riset, dan tahap pengembangan. Contoh kegiatan pada tahap penelitian adalah:
  • Kegiatan yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan baru;
  • Pencarian, evaluasi, dan seleksi final untuk penerapan atas penemuan penelitian atau pengetahuan lain;
  • Pencarian alternatif bahan baku, peralatan, produk, proses, sistem, atau jasa; dan
  • Perumusan, desain, evaluasi, dan seleksi final berbagai kemungkinan alternatif bahan baku, peralatan, produk, proses, system, atau jasa yang baru atau yang ditingkatkan.

Perusahaan tidak mengakui Aset Takberwujud yang timbul dari tahap penelitian. Biaya yang timbul dari tahap penelitian diakui sebagai beban penelitian, bukan sebagai beban perolehan Aset Takberwujud. Hal itu disebabkan karna tahap penelitian belum menghasilkan Aset Takberwujud untuk bisa benar-benar dimanfaatkan. Sedangkan untuk Aset Takberwujud yang timbul dari tahap pengembangan, dapat diakui jika perusahaan memenuhi seluruh hal berikut ini:
  1. Kelayakan teknis penyelesaian Aset Takberwujud tersebut sehingga aset dapat digunakan atau diijual.
  2. Intensi untuk menyelesaikan Aset Takberwujud tersebut dan menggunakannya atau menjualnya.
  3. Kemampuan untuk menggunakan atau menjual Aset Takberwujud tersebut.
  4. Bagaimana Aset Takberwujud akan menghasilkan kemungkinan besar manfaat ekonomik masa depan. Antara lain perusahaan dapat menunjukan adanya pasar bagi output Aset Takberwujud atau pasar atas Aset Takberwujud itu sendiri, atau, jika Aset Takberwujud itu akan digunakan secara internal, perusahaan dapat menunjukkan kegunaan Aset Takberwujud tersebut.
  5. Kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran yang dapat diatribusikan terhadap Aset Takberwujud selama pengembangannya.

Dalam tahap pengembangan, perusahaan dapat menunjukkan bahwa aset takberwujud kemungkinan besar akan menghasilkan manfaat ekonomik masa depan. Hal itu karna tahap pengembangan lebih maju dibandingkan tahap penelitian. Contoh aktivitas dalam tahap pengembangan adalah:
  • Desain, konstruksi, serta pengujian purwarupa dan model sebelum produksi atau sebelum digunakan;
  • Desain peralatan, cetakan, dan pewarnaan yang melibatkan teknologi baru;
  • Desain, konstruksi, dan operasi pabrik percontohan, yang skalanya tidak ekonomik, untuk produksi komersial;
  • Dan desain, konstruksi, dan pengujian alternative bahan baku, peralatan, produk, proses, system, atau jasa yang baru atau yang disesuaikan.

Dalam mengakui aset takberwujud, perusahaan menilai apakah umur manfaat Aset Takberwujud terbatas atau tidak. Jika terbatas, maka Aset Takberwujud memiliki jangka waktu atau jumlah produksi yang terbatas hanya selama umur manfaat. Aset Takberwujud dapat dianggap tidak terbatas atau tidak memiliki umur manfaat jika, berdasarkan analisis dari seluruh faktor yang relevan, tidak ada batas yang terlihat pada saat itu. Tetapi istilah “tidak terbatas” bukan berarti “tidak terhingga”. Umur manfaat Aset Takberwujud hanya mencerminkan biaya perawatan aset yang dibutuhkan agar aset dapat bekerja sesuai dengan standar kinerja. Standar kinerja tersebut dinilai pada saat dilakukannya estimasi umur manfaat aset takberwujud, serta kemampuan dan intensi perusahaan untuk mencapai tingkat tersebut.

Baik faktor ekonomik maupun faktor hukum dapat mempengaruhi umur manfaat Aset Takberwujud. Faktor ekonomik dapat menentukan periode manfaat ekonomik masa depan. Misal, software komputer memiliki umur manfaat sampai versi software yang terbaru keluar. Faktor hukum dapat membatasi akses perusahaan atas Aset Takberwujud tersebut. Misal, izin penangkapan ikan tidak dapat dimanfatkan lagi jika izinnya habis sesuai ketentuan hukum.

Jika ada umur manfaat, aset umumnya memiliki nilai residu. Tetapi untuk Aset Takberwujud, nilai residu diasumsikan sama dengan nol. Kecuali, ada komitmen pihak ketiga untuk membeli Aset Takberwujud pada akhir umur manfaatnya, atau ada pasar aktif untuk Aset Takberwujud tersebut. Pasar aktif memungkinkan perusahaan untuk dapat menghitung nilai residu Aset Takberwujud dengan mengacu pada harga yang berlaku di pasar.

Aset Takberwujud didasarkan pada umur manfaatnya untuk menentukan apakah aset tersebut akan diamortisasi. Amortisasi adalah alokasi sistematis jumlah tersusutkan Aset Takberwujud selama umur manfaatnya. Aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas akan diamortisasi. Sedangkan untuk Aset Takberwujud dengan umur manfaat tidak terbatas tidak diamortisasi.

Periode amortisasi dan metode amortisasi aset takberwujud ditelaah setidaknya setiap akhir tahun buku. Jika terjadi perubahan yang signifikan dalam pola konsumsi manfaat ekonomik aset yang diperkirakan, maka metode amortisasi diubah sejalan dengan pola yang berubah tersebut.

Author : Russell Bedford SBR

Share |