home » Cara Lain Menghitung Peredaran Bruto
Post : 5-Maret-2018

Cara Lain Menghitung Peredaran Bruto

Melalui penerbitan PMK No. 15 /PMK.03/2018  tanggal 12 Februari 2018, Pemerintah telah menetapkan cara lain menghitung peredaran Bruto Wajib Pajak. Aturan baru untuk menghitung peredaran bruto ini terutama ditujukan kepada WP yang wajib menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, atau dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan, yang pada saat dilakukan pemeriksaan diketahui bahwa WP tersebut  tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau pembukuan atau tidak atau tidak sepenuhnya memperlihatkan dan/ atau meminjamkan pencatatan atau pembukuan atau bukti pendukungnya, sehingga mengakibatkan peredaran bruto yang sebenarnya tidak diketahui. Terhadap WP demikian, peredaran bruto WP dihitung dengan cara lain.

Cara Menghitung Peredaran Bruto

Berdasarkan PMK baru ini, ada 8 altenatif menghitung peredaran Bruto Wajib Pajak Orang Pribadi , yaitu

1.Transaksi tunai dan nontunai

Peredaran bruto Wajib Pajak dapat dihitung berdasarkan data atau informasi mengenai pendapatan Tunai atau Non Tunai dalam suatu tahun Pajak.

2. Sumber dan penggunaan dana

Peredaran bruto juga bisa didapatkan dari informasi mengenai sumber dana dan penggunaan dana dalam suatu tahun pajak.

3. Satuan dan/atau volume

Cara lain yang untuk menghitung peredaran bruto adalah dengan menjumlahkan data dan/ atau informasi mengenai jumlah satuan dan/ atau volume usaha yang dihasilkan Wajib Pajak dalam suatu tahun.

4. Penghitungan biaya hidup sehari-hari,

Dalam hal ini, penghasilan Bruto dapat dihitung dari biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya yang digunakan untuk menambah kekayaan dalam satu tahun pajak.

5. Pertambahan kekayaan bersih

Peredaran bruto didapatkan dengan cara menghitung berdasarkan data kekayaan bersih pada awal dan akhir tahun dalam suatu tahun pajak. Kekayaan bersih disini tidak terbatas pada uang tunai yang dimiliki WP, tapi juga aset lain yang dimiliknya, seperti Rumah, Tanah, Kendaraan dan lain sebagainya,

6. Berdasarkan Surat Pemberitahuan pemeriksaan tahun pajak sebelumnya

Penghasilan Bruto juga dapat dihitung dari SPT tahun sebelumnya atau berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan Ditjen Pajak tahun sebelumnya.

7. Proyeksi nilai ekonomi

Cara lain yang tidak kalah efektif dalam menghitung dalam menghitung peredaran bruto adalah dengan memproyeksikan nilai ekonomi dari suatu kegiatan usaha pada saat tertentu pada suatu tahun pajak.

8. Penghitungan Rasio

Alternatif lain yang dapat dilakukan untuk menghitung peredaran bruto adalah dengan menjumlahkan persentase atau rasio pembanding penghasilan WP***

Author :

Share |